Home
Para Imam Syiah Mengikuti Umar bin Khattab

Go back to the article

Comment in question

1. 26-11-2009 09:31

Keritik
ass.alaikum, Maaf...!!! penulis sepertinya tidak paham apa yang sedang ditulisnya(terlebih khusus lagi ketika mengutip pendapat kitab2 syiah),..kalau Umar benar-benar mengatakan hal itu(bahwa cukuplah untuk kita semua kitab Allah) berarti Umar telah menganggab perkataan,kelakuan dan sikap Nabi(termasuk sikap diam atau tidak diamnya)adalah tidak penting dan tidak di butuhkan,lalu mengapa ummat islam menjadikan hadis2 nabi sebagai sumber hukum..?? tentunya jawabannya jelas sekali,karena di dalam al quran hanya tertera penyajian hukum secara kulli(universal)atau tidak terinci.Tetapi bagi Umar sekali lagi...cukuplah kitab Allah. Pertanyaan:siapa yang mampu menafsirkan Al Quran secara pasti dan 100% benar..?? apakah Umar..?? atau Nabi pada saat itu hendak memberitahukan orangnya..???? apakah benar Nabi Diam dan tidak menunjukkan reaksi sedikitpun....???  
 
seperti yang penulis katakan...sebagian diantara kita ada orang yang tidak menggunakan akalnya dengan baik...???? apakah penulis telah menggunakan akalnya dengan baik...??? 
 
anda mesti belajar logika lebih sungguh2 lagi...soalnya tulisan antum itu tidak punya nilai logis yang cukup,dengan kata lain tulisan ini di tulis dengan perasaan benci saja dengan orang syiah...tudak ikhlas....OK! 
 
maaf jika kasar....biar antum menggunakan akal antum secara lebih baik lagi..!!! 
 
MrShiaa: 
 
terimakasih komentarnya, nampak jelas anda menuduh Umar memiliki pemahaman yang seperti anda tuduhkan, bahwa tidak perlu lagi sumber selain Al Qur'an, yaitu tidak lagi perlu hadits. 
 
pertanyannya, apakah Umar memahami seperti itu? 
Apakah Umar memahami bahwa ucapan Nabi tidak penting? 
Apakah itu juga yang dimaksud oleh para imam anda? 
 
Mengapa Nabi tidak mengoreksi sikap Umar? Mengapa ahlulbait yang ada di situ ikut diam? 
Dan terakhir, mengapa orang yang dalam pandangan anda begitu buruk, ternyata masih dipercaya oleh Ali, dinikahkan dengan Ummu Kultsum, darah daging Nabi SAAW sendiri.
» See all 1 replie(s)
ali
1 replies

1. 04-12-2009 14:58

titik permasalahannya bukan disitu syg..
Titik permasalahannya bukan disitu sayang. Bukan soal apakah umar menganggap tidak perlu lagi sumber selain Al Qur'an, yaitu tidak lagi perlu hadits. 
 
Tetapi hal yang perlu kita soroti dan kita analisa adalah: 
 
Nabi hendak menyampaikan wasiat agar umat sepeninggal beliau tidak tersesat. Tetapi Umar berkata, Nabi sedang sakit keras, ditengah-tengah kita ada Kitab Allah. Cukuplah itu sebagai pedoman. 
 
Dari peristiwa tersebut, sebetulnya ada 2 kehendak yang saling kontradiksi. 
Nabi menginginkan adanya penulisan wasiat tersebut 
Umar mengatakan cukuplah Kitab Allah, ndak perlu wasiat Nabi. 
 
Pertanyaan yang ingin saya ajukan, Manakah yang akan kita ikuti, Nabi yang memerintahkan penulisan wasiat ataukah Umar yang mengatakan cukuplah Kitab Allah? 
 
Kalau saya tentu akan lebih memilih mengikuti Nabi dan meninggalkan Umar. 
 
Mengapa? 
 
Bukankah di Al-Quran Allah telah berfirman: 
 
Demi bintang ketika terbenam, Kawanmu (Muhammad) tidak sesat. dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al Quran) menurut kemauan hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS al Najm (53): 1-4).  
 
Bukankah kita diperintahkan untuk taat, sebagaimana perintah Allah: 
 
Apa yang datang dari Rasul, maka ambilah Dan apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah. (QS al Hasyr (59):7) 
 
Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul-Nya. (QS al Nisa (4):59) 
 
Dari firman-Nya tersebut kita diperintahkan tanpa syarat, baik kondisi Rasul sehat maupun sakit, hal ini diperintahkan pula oleh Allah: 
 
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat, dalam kesesatan yang nyata. (QS al Ahzab (33):36).  
 
Apa yang jadi kehendak Rasulullah ternyata berbeda dengan kehendak Umar. Apa yang jadi ketetapan Rasulullah itu ternyata dihalang-halangi oleh ketetapan Umar. 
 
MrShiaa: 
 
terimakasih tanggapannya, masalahnya mengapa Nabi sendiri mengikuti ketetapan Umar, dan malah tidak jadi berwasiat? 
 
kata anda: 
 
Kalau saya tentu akan lebih memilih mengikuti Nabi dan meninggalkan Umar. 
 
Nabi sendiri mengikuti Umar dan tidak jadi berwasiat. bagaimana dengan anda?
» Reply to this comment...
metafisika


mXcomment 1.0.8 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 

Syiah Latest Comments

teruskan
sungguh web ini sangat berguna membuka mata dan hati serta...
09/05/12 21:32 More...
By ghifary palembang

aklak kang jalal 8
Di Qum ( Iran ) selain belajar mut'ah juga dong!! Assyikkk
09/05/12 18:44 More...
By imam ko'mani

sejarah kelam islam
menurut anda apakah kudeta muawiyah yang didukung beberapa sahabat...
08/05/12 14:14 More...
By abyjahier

jauhi syiah
silahkan baca disini...
07/05/12 12:03 More...
By saiful

jauhi syiah
Sungguh Rasullah Mengatakan ummatku akan terbagi menjad 73 golongan...
07/05/12 11:54 More...
By saiful

Lihat Gallery Syiah

Online

Saat ini ada 28 tamu online